Aneh.

mungkin gue masih berasa ‘nggak apa-apa’ kalau nggak punya temen deket di tempat kerja, karena emang gak perlu ada yang diharapkan dari apa pun di tempat yang harusnya segala keprofesionalitasan dijunjung tinggi.

nggak perlu ada sekadar pragmatis dan praktis semata: biar bisa dibilang asik, supel, ramah, dan lain-lain. hal yang gak perlu ada di dunia kerja, pertemanan.

hari ini, 7 September 2018, gue baru saja mengalami perundungan verbal dari rekan kantor gue. nama yang gak akan pernah gue lupa, karena namanya sama dengan salah satu mantan sahabat gue (kayaknya suatu hari perlu ditulis juga di sini, berhubung doi juga pernah ada dalam blog ini juga), yang pastinya jadi membekas makin parah kayak luka diabetes–yang gak akan pernah sembuh juga.

jadi kejadiannya mayan cepet sih, di jam makan siang, gue lagi selaper itu nunggu pesanan gojek yang nyasar (salah gue, karena salah naro titik penerimaan). udah mana pas ditunggu juga ternyata pesanan gue salah, duh makin cranky aja gue mau makannya.

di kantor gue sini emang udah jadi kebiasaan kalo mau makan bareng ya di meja depan yang bangkunya model bentuknya kayak ayunan gitu kan, jadilah gue gabung makan sama Karina dan Nita di situ. gue gak biasa pake bangku ayunan yang kadang suka merosot ke bawah gitu, ditambah lagi gue segemuk itu kan, jadi kayak rada gak enak gitu lah, gue ambillah kursi beroda di ujung meja supaya tetep bisa makan di meja itu. Yurika dan Tamara yang emang udah selesai makan pun juga duduk di situ, di samping Karina dan Nita. di samping Nita, ada A****E–yang entahlah gue dari awal selalu merasa ada yang gak beres sama dia, dan ternyata bener dong–duduk paling pojok di meja ayunan itu.

semuanya udah pada selesai makan, tinggal gue doang yang belum karena emang tadi nunggu gojeknya mayan lama, yaudah gue ngomong ke nita dengan nada anak kecil (YANG EMANG UDAH BIASA GUE LAKUIN KE YURIKA DAN BEBERAPA ANAK SINI),

“Nita, nanti temenin sebentar ya sebelum meeting, aku nggak ada temen ini makannya..”

terus kata Nita, iya iya gitu lah, eh, gak lama respond-nya Nita, si A****e bilang gini ke gue:

“IH, aneh abis lo.” dengan tatapan sinis. dengan tatapan nyinyir. dengan tatapan merendahkan. dengan tatapan judgmental. dengan tatapan seakan gue hina. gue makhluk aneh, makhluk gak ada harga. (YES, TATAPAN DIA BISA SEBEGITU INTIMIDATIFNYA. gue saranin lo jangan jadi Account Strategies, deh, Mel, jadi apa kek, debt collector, kek, jadi polwan yang nginterogasi penjahat, kek. jauh lebih guna nantinya hidup lo.)

apakah dengan begitu, gue akan serta merta diam saja? oh, tentu saja tidak, Saudara. gue langsung nunjuk seketika ke arah muka dia,

“lo nggak boleh bilang gue aneh, setiap orang punya speciality-nya sendiri. lo gak ada hak bilang aneh gitu ke gue.”

muka gue udah nggak lagi bercanda, karena gue tau dia nggak bercanda. nggak pernah ada kamus bercanda buat dia kalau udah ngatain dan judgemental begitu ke orang. gimana caranya gue tau? keliatan. orang bercanda nggak akan seintimidatif dan segitu gak sensitifnya sama orang yang tersinggung sama bercandaannya.

gue merasa marah, gue merasa harus cerita, gue merasa harus meluapkan, gue merasa ini penting buat gue karena dia udah segitu membuat gue emosi. gue telepon Aba Fajar. tadinya niat cuma mau cerita aja, sekadar pingin didenger, sekadar ingin meluapkan.

tapi di saat gue merasa dan memikirkan, entah karena emosi gue udah sangat membuncah digituin sama orang macem dia DOANG, gue marah dan gue nangis sejadi-jadinya, sampe kayak orang sedih banget, segitu marahnya gue sampe gak bisa marah… tapi cuma bisa nangis sambil cerita di telepon.

gue bener-bener nggak nyangka aja. ada orang lain, entah dia itu siapa, kenal aja juga baru, nggak bener-bener ngobrol secara dekat, dengan segala keangkuhan dan gayanya yang sinis, bisa dengan entengnya bilang gue aneh.

seriously, like… really? (ala anak-anak Jaksel)

gue jadi meragukan pendidikan dia di luar negeri, apa iya dia beneran terdidik atau nggak. sepengetahuan gue, meskipun gue orang Bekasi yang gak pernah tinggal di luar negeri, kayaknya sangat gak etis dan gak ada kepentingan juga lo komentarin hidup orang dan langsung judge kayak gitu. kayak, ya masa iya sih, sampe segitu pentingnya lo ngurusin dan komentarin hidup orang.

terus gue inget dan menyadari… alah, dia cuma manusia kota yang kesepian, pathetic, nggak punya temen, cari perhatian, mikirin reputasi, dan segala hal lainnya yang punya stigma negatif.

dah ya, Mel, selamat, lu udah dapet perhatian gue. perhatian semua orang.

lo nggak pernah akan bisa, sampai kapan pun, gak pernah boleh, gak akan ada waktunya, lo bisa jatuhin orang dengan omongan judgemental dan tatapan sinis sampah lo itu. nggak akan. ke siapa pun.

gue maafin lo, meskipun lo nggak minta maaf. kalo kata The Corrs, you’re forgiven, but not forgotten.

mungkin reaksi gue menurut beberapa orang akan dicap berlebihan dan nggak seharusnya sewajarnya dan semestinya kayak gitu, apalagi gue lagi mengandung. kayak kurang dewasa aja nanggepin hal itu. balik lagi ke pribadi orangnya sih ya, kalau gue, ini udah titik tersabar gue menghadapi teman-teman yang membuat gue… ah. gue merasa udah menahan, udah merasa ini biasa aja, udah merasa nggak perlu dibesar-besarin, tapi kalau kayak gitu terus, itu orang bakalan terus-terusan bersikap kayak gitu. ke semua orang, yang dia anggap bisa dia gituin.

nggak bisa. gue harus lawan. gue gak bisa bikin dia merasa, “oh yaudah, gak ada yang berani sama gue. gak akan ada yang lawan gue. semua orang takut sama gue.”

lo dan gue. masih manusia. masih sederajat. masih sama. masih sejenis.

mungkin di lain post, gue akan sangat bergairah nulis segala tetek bengek ini. cuma karena gue udah nggak mood nulis tentang ini, mohon maaf ya, sampai di sini aja cerita keselnya.

oh iya, satu lagi, gak ada orang yang suka dengan perlakuan lo yang kayak gitu. nggak ada.


 

dear abang yang ada di dalam perut,

belajarlah menjadi manusia. nanti Ubu temani bersama, ya.

 

7 September 2018, pojokan tempat duduk bumil di kantor Playpark 99, 15.21 WIB.

Iklan

another level of life: istri dan ibu

well rasanya udah lama banget nggak kicau alay di sini. sekangen itu, se-random itu, padahal bisa aja nih blog gue ganti ke domain .com dan gue jadiin konten harian biar kayak mak-mak blogger (ceritanya itu dulu salah satu hobi deya yang mau dijadiiin kerjaan = nulis doang tapi dapet uang). dan rasanya emang beneran bakalan gue jadiin serius deh. mungkin beberapa konten yang mayan berbobot di blog super alay ini bisa gue jadiin awalan dulu di sana, buat sekadar ngisi aja gitu, ehehehehe

anyway, alhamdulillah ya, ternyata gue sudah mengalami banyak dinamika dalam hidup selama kurang lebih 24 tahun (yey, bentar lagi you 25 de!) ini. seperempat abad hidup, dengan menjadi seorang perempuan, istri, dan (calon) ibu.

ya. akhirnya, dea akan menjadi seorang ibu!

whoops, sebelum masa-masa itu datang, ada niatan dari dalam diri buat sekadar memulai lagi nulis, karena in syaa Allah sepertinya tulisan akan lebih abadi daripada hanya jasad dan jiwa saya ini.

jadi, gue sudah menikah tahun ini gaes, nah ini bakalan ada postingannya tersendiri ya, biar traffic blog gue naik. hahaha padahal mah siapa juga yang mau baca sih elah.

lalu setelah menikah, alhamdulillah juga, Allah langsung kasih “titipan” tiada bernilai, seorang janin yang kini masih berusia 22 minggu. yang ini juga nantinya bakalan ada kontennya tersendiri ya.

intinya gaes, dearisa sepertinya sudah menemukan “dia” yang sempat gue tuliskan dahulu, rasa-rasanya waktu jadi sangat begitu cepat ya, padahal pas ketemu “dia” ini mayan ngaduk-ngaduk perasaan.

gue tau, gak akan ada yang bener-bener baca ini tulisan, seenggaknya gue bisa berbagi cerita dengan siapa pun yang tetiba ingin kepo tentang gue suatu hari nanti.

gue nulis ini di tengah-tengah kerja sih, jadi…

 

… sampai ketemu di tulisan panjang selanjutnya.

FD. Flash Drive.

 

Belum punya “puisi” buat dia.

Aku cuma tahu satu hal, sekarang ini–dan aku tak tahu sampai kapan–dia hanya akan selalu menjadi dia-nya Dearisa. Dia yang pernah kutuliskan pada postingan sebelumnya, jauh sebelum aku mengenalnya. Dia-nya Dearisa Muhlisiani Putri ini bernama…. Nikmatul Fajar. Ajak. Jajak. Atul. Fajar.

:))

Happy twenty! Happy growing old with me!

Pesan Tulus Untuk Bipolar Disorder

welcome, Dearisa. welcome to The Bottom of Everything life.

Flying so light to the sky

Tak disangka, saya (kembali) menulis mengenai bipolar disorder. Dan latar belakang penulisannya masih sama, atas dasar rasa yang tulus untuk seseorang.

Setiap kita pasti pernah merasa depresi atau euphoria dalam lingkaran hidup yang dijalani. Tapi tak semua orang memiliki kemampuan untuk menghadapi dua rasa yang jamak itu.

Trauma masa lalu, kemampuan memecahkan masalah, dan mekanisme kimiawi tubuh adalah unsur yang membantu kita berhasil melalui dua rasa itu atau justru sebaliknya. Dan bagi pengidap bipolar disorder, dua rasa itu adalah ‘beban’ yang harus mereka pikul seumur hidup.

Sebelum cerita banyak soal Bipolar Disorder, ada baiknya liat thriller film At the Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya). Ini film karya Paul Agusta, salah satu sutradara film indie yang berbakat.

Apa kesan yang timbul saat menonton film itu? Mendapat sedikit gambaran soal Bipolar Disorder atau justru memancing seribu pertanyaan tentang mahluk apakah Bipolar Disorder? Sebelum (berusaha) menjawab, saya ingin kasih gambaran bahwa film…

Lihat pos aslinya 2.005 kata lagi

Akhirnya Nulis Lagi.

Akhirnya nulis lagi. Belum deh, belum bisa cerita semua-semuanya lagi kayak dulu. Belum bisa update kehidupan lagi kayak dulu.

Ada, sih, target mau tiap minggu nge-update blog ini, tapi kayaknya pun baru hanya akan jadi wacana aja, nih.

Ada sesuatu yang mendesak gue menuliskannya di blog ini. Ya, akhirnya gue “nyastra” lagi, setelah sekian lama bergulat dengan ragam komersialisasi dan materialisasi. Akhirnya gue balik lagi jadi manusia normal, bukan hewan berotak yang bentar lagi bertransformasi jadi zombi distrik Bekasi di Commuter Line itu. Ya, akhirnya gue nulis lagi.

Akhirnya gue nulis lagi, nulisin ini semua. Ya.

30 November 2015 lalu gue nulisin sesuatu buat pacar gue, Nikmatul Fajar, di media chatting WhatsApp. Sesuatu ini, gue nggak tau disebutnya apa, masuk ke puisi narasi, nggak juga. Puisi esai, juga nggak. Curahan biasa, tapi terlalu puitis. Ya, anggaplah apa pun itu yang bisa bikin gue jadi nulis lagi kayak dulu ini secuil perasaan gue, yang gue rasain dengan bersama Keenan-nya gue. Iya, akhirnya Kugi-nya bisa nulis lagi. Akhirnya.

————————————————————-

Cuma Kamu, Yang Lain Palsu

Jika ada sebongkah bebatuan dan kekayuan di tengah jalan; mereka berlari, menginjak, menghindari, namun kadang tak menyingkiri. Cuma kamu yang berani menyapu segala pelu sesakitan akibat batu dan kayu di tengah jalan itu. Asli, hanya kamu yang berani. Cuma kamu, yang lain palsu

Jika Matahari dan Bulan bergantian peran berteman dengan awan dan bintang gemerlapan di malam-malam terang dan berbinar, terkadang hujan menyapa dengan bijak, tak jarang pelak galak; semuanya masih milik Bumi yang meledak-ledak bergantian bersolek penampilan dan jelma rupa. Cuma kamu yang tahu Bumi bersahabat dekat dengan pijakan sinar Matahari yang lembut kadang menyengat, berirama dengan pantulan dari Bulan di malam rupawan, mimikri dengan sikap dan tingkah manusia-manusia yang tinggal dengan silap tetap tamak. Asli, hanya kamu yang tahu. Cuma kamu, yang lain palsu

Jika ada dua, tiga, empat, bauran gelap remang membayang di antara wanitanya lagi gulana nan bimbang; terserbu jutaan, milyar, triliun kenangan tak biasa terucap dengan kebohongan matang. Cuma kamu yang paham betapa diri wanitanya lemah bertabur gundah dengan susah payah menjauhi segala susah. Asli, hanya kamu yang paham. CUma kau, yang lain palsu

Jika pada akhirnya kau dihadapkan pada pilihan murni dari cinta sejati yang menitahkanmu pergi, dengan berbagai koleksi kilah diri bahwa wanitanya masih sanggup lagi sendiri menggenggam sedih terperi. Cuma kamu yang mau ambil risiko jiwa sendiri, mengancam luka batin tanpa henti yang datang dari mana saja yang bisa menghampiri, mencoba tanah dan kuat menghadapi. Asli, hanya kamu yang mau. Cuma kamu, yang lain palsu

Dearisa Muhlisiani Putri

————————————————————-

Ya, akhirnya gue nulis (sampah) lagi. Sampai jumpa di postingan blog (sampah) selanjutnya! :))

 

 

5 Not-lame holiday destinations for fun couples

barengan sama Nikmatul Fajar, ya, ya, ya, harus bisa ya, ya, ya :))

Little Grey Box

Matt and I have been travelling together for a looooong time now. A very long time. The great thing about it is a great deal of our travel memories are shared, so it’s easy to relive all the good times (and a few of the late-night fights, lost, on the way back to the hotel). It’s awesome being able to look at your partner and say, “Hey, remember that time we walked into the most expensive restaurant in Lisbon and were so broke we could only afford to order entrees and then got hauled up onto a stage to do a traditional dance in front of 100 rich people as we were discreetly trying to leave….” (that actually happened).

Long story short, travelling with your partner is awesome. When Matt and I travel together we like to have as much fun as possible. While spending a week at a gorgeous…

Lihat pos aslinya 1.155 kata lagi

What Makes a Human, Human

the friction of mind being something-you-should-have-to-be and something-you-should-want-to-be, still on and go swinging around my head and my life. Ah, oh, so yes I’m twentytwo soon. yuck me! :”

The Daily Journal

character_illustration
You know, the insane and global epidemic of “focus on grades and performance and be perfect and do everything for the sake of a good job and a good future and a rich spouse” is ridiculous and it’s ruining kids. Children are supposed to be children and humans aren’t even emotionally mature until their mid-to-late twenties, so why are we constantly pushing them to have the intellectual and emotional maturity of 50-year-olds? Instead of giving kids love and guidance, parents and teachers shove kids out into difficult situations and tell them, “sorry, you’re by yourself. I’m doing this for you; this is how you’re gonna be successful, you need to learn how to take care of yourself.”

Lihat pos aslinya 520 kata lagi