Pilihan

(baik dibaca saat mendengarkan Novo Amor, lagu apa saja. pilihanku: “State Lines”)

Ada kalanya, di dalam hidup ini harus memilih satu dan satu lainnya. Bisa jadi yang dipilih, pilihan yang akhirnya jadi pilihan dengan segala hal yang baik, baik risikonya, baik keuntungannya, sempurna.

Tapi tidak untuk pilihanku kali ini.

Sebagaimana jalan, ada pilihan. Belok kanan, belok kiri, putar balik, persimpangan, pertigaan, perempatan, perlimaan.

Ini pilihanku, yang akhirnya jadi pilihan dengan segala hal yang baik dan buruk, baik dan buruk risikonya, baik untung dan buruk ruginya, tidak sempurna.

Aku pernah memilih jalan “itu”, jalan yang sempurna untukku. Pilihanku tidak berujung akhir yang sempurna untuknya, ternyata.

Dari segala jalan yang kupilih, entah mengapa selalu berujung pada pilihan yang tidak kupilih. Selalu berujung pada pilihan yang tidak pernah tebersit ingin kupilih.

Namun, kali ini, bukan aku menyerah begitu saja, pilihanku akhirnya selalu berujung pada pilihan satu lainnya ini yang tidak kupilih.

Berhenti sejenak.

Aku selalu memilih pilihan lain: menitipkannya kepada saudaraku, mempercayainya menjaga dia, memberinya kasih dan sayang, menganggapnya sebagai bagian dari diriku; menjadi ibunya.

Hasil ujung dari pilihanku ini, tidak kusangka semulus perkiraanku. Ujung dari pilihanku yang ini, akhirnya menjadi pilihanku yang lain yang tidak pernah tebersit ingin kupilih.

Lalu aku memilih pilihan lainnya: menitipkannya di tempat penitipan anak dekat rumah, mempercayai orang lain untuk mengurus dan menjaga dia, memusnahkan pikiran-pikiran yang mengganggu dan selalu bersenandung dalam hati: “dia baik-baik saja…”

Hasil ujung dari pilihanku yang lain ini, tidak kusangka semulus rasa legaku. Ujung dari pilihanku yang lain ini, akhirnya menjadi pilihanku akhir yang tidak pernah tebersit ingin kupilih, sama sekali.

Lalu aku tersadar… sial. Aku punya pilihan, dia tidak. Dia tidak.

Aku, selalu punya pilihan: pilihan yang bisa jadi yang dipilih, pilihan yang akhirnya jadi pilihan dengan segala hal yang baik, baik risikonya, baik keuntungannya, sempurna. Atau, aku punya pilihan yang akhirnya jadi pilihan dengan segala hal yang baik dan buruk, baik dan buruk risikonya, baik untung dan buruk ruginya, tidak sempurna.

Sedangkan untuknya? Dia tidak pernah punya pilihan.

Aku pernah memilih jalan “itu”, jalan yang sempurna untukku. Pilihanku tidak berujung akhir yang sempurna untuknya, ternyata.

Lalu aku tersadar… sial. Aku punya pilihan, dia tidak. Dia tidak.

***

Hari ini, 30 Agustus 2019 merupakan hari yang bersejarah (lagi) untuk Dea.
Hari ini, Dea akan resmi meninggalkan titel “working mom” dan akan menjadi “stay-at-home mom”… yeay!

“Yeay!”?

Yakin?

Mungkin untuk sebagian yang sudah mengenal Dea seperti apa dan bagaimana, rasanya memang tidak mungkin ya, apalagi menjadi seorang IRT. Sepertinya “bukan Dea banget”. Segala pekerjaan di rumah otomatis nantinya memang akan jadi pekerjaan Dea yang baru, sebagai IRT. Mulai dari masak, beberes rumah, siapin makanan, cuci baju, setrika, ngepel, nyapu, dan segala hal lainnya yang biasa IRT lakukan, gak tau apa lagi, belum coba full soalnya hihi…

Di luar dari semua itu, semua pilihan yang pada akhirnya berujung pada pilihan ini, gue sangat mengapresiasi buat temen-temen yang mempertanyakan pilihan ini. Agaknya, gue cuma bisa sangkal dengan jawaban, “ya habisnya, mau bagaimana lagi?”, lalu menggantung begitu saja tanpa bisa dijawab dengan jawaban lainnya yang lebih membuat hati gue dan hati yang bertanya merasa lega dan puas.

Akhirnya, di ujung kementokan pilihan gue yang ini dan itu, memang harus mau gak mau, suka gak suka, bisa gak bisa, tahu gak tahu, apa pun itu… Dea memang harus di rumah dulu bersama Izzan.

Demi kebaikannya, karena dia tidak punya pilihan seperti gue, ibunya, yang selalu punya pilihan.

Tapi tenang… Dea akan kembali bekerja kok, setelah dia dan gue sama-sama punya pilihan.

Gue lagi gak bisa nulis lepas dan panjang kayak biasa, karena selain memang udah selama itu nggak pernah nulis, gue juga gak tau apa lagi yang mau gue tulis.

Intinya, doakan ya, semoga memang benar pilihan yang tidak pernah gue pilih ini menjadi pilihan yang terbaik untuk dia, untuk Izzan, anak lanangku.

Bismillah.

Oh iya, buat yang masih ada uneg-uneg, mau itu apa pun, mau ngomel kek, mau curhat kek, mau nanya kerjaan kek, atau apa pun itu, please please please tetep kontak aja ya, jangan ngerasa nggak enak karena gue pun tetep pasti pegang HP kok (meskipun lagi sama Izzan) hahahahahahahahahahahaha karena apa lagi nanti hiburan gue hahahahahahahahahahaha…

Jaga diri kalian, kiamat sudah dekat, tanda-tandanya udah pada keluar semua, ya kita sebagai hamba-Nya yang percaya adanya hari akhir, harus sebisa mungkin mempersiapkan, karena… beneran deh, kita gak tau kapan Tuhan mau buat semua ini hancur lebur, bisa jadi sebelum semua tanda kiamat ditunjukkan, Allah sudah mau mengiamatkan ini semua. 😦

Makasih buat semua temen-temen gue di Cekaja.com huhuhu sedih deh, gue gak tau dah ini mau nulis apa untuk kalian karena ya… emang gak ada yang bener-bener mau ditulis. Cukup kita saling mendoakan saja ya, bismillah deh… 🙂

***
Jakarta, 30 Agustus 2019
Wisma Barito Pasific Tower B lantai 5
13.54 WIB

New Me

Halo WordPress

Sekarang gue ada Dea berusia 25 tahun, Desember tahun ini bertambah genap jadi 26 tahun

Sekarang gue adalah seorang istri dari Nikmatul Fajar

Sekarang gue adalah seorang bubu dari Alkautsar Lentera Izzan Defara

Hmmmm apa lagi ya?

Nanti deh update lagi, gue udah nulis draft banyak banget padahal ckckckckkckckckckc

Aneh.

mungkin gue masih berasa ‘nggak apa-apa’ kalau nggak punya temen deket di tempat kerja, karena emang gak perlu ada yang diharapkan dari apa pun di tempat yang harusnya segala keprofesionalitasan dijunjung tinggi.

nggak perlu ada sekadar pragmatis dan praktis semata: biar bisa dibilang asik, supel, ramah, dan lain-lain. hal yang gak perlu ada di dunia kerja, pertemanan.

hari ini, 7 September 2018, gue baru saja mengalami perundungan verbal dari rekan kantor gue. nama yang gak akan pernah gue lupa, karena namanya sama dengan salah satu mantan sahabat gue (kayaknya suatu hari perlu ditulis juga di sini, berhubung doi juga pernah ada dalam blog ini juga), yang pastinya jadi membekas makin parah kayak luka diabetes–yang gak akan pernah sembuh juga.

jadi kejadiannya mayan cepet sih, di jam makan siang, gue lagi selaper itu nunggu pesanan gojek yang nyasar (salah gue, karena salah naro titik penerimaan). udah mana pas ditunggu juga ternyata pesanan gue salah, duh makin cranky aja gue mau makannya.

di kantor gue sini emang udah jadi kebiasaan kalo mau makan bareng ya di meja depan yang bangkunya model bentuknya kayak ayunan gitu kan, jadilah gue gabung makan sama Karina dan Nita di situ. gue gak biasa pake bangku ayunan yang kadang suka merosot ke bawah gitu, ditambah lagi gue segemuk itu kan, jadi kayak rada gak enak gitu lah, gue ambillah kursi beroda di ujung meja supaya tetep bisa makan di meja itu. Yurika dan Tamara yang emang udah selesai makan pun juga duduk di situ, di samping Karina dan Nita. di samping Nita, ada A****E–yang entahlah gue dari awal selalu merasa ada yang gak beres sama dia, dan ternyata bener dong–duduk paling pojok di meja ayunan itu.

semuanya udah pada selesai makan, tinggal gue doang yang belum karena emang tadi nunggu gojeknya mayan lama, yaudah gue ngomong ke nita dengan nada anak kecil (YANG EMANG UDAH BIASA GUE LAKUIN KE YURIKA DAN BEBERAPA ANAK SINI),

“Nita, nanti temenin sebentar ya sebelum meeting, aku nggak ada temen ini makannya..”

terus kata Nita, iya iya gitu lah, eh, gak lama respond-nya Nita, si A****e bilang gini ke gue:

“IH, aneh abis lo.” dengan tatapan sinis. dengan tatapan nyinyir. dengan tatapan merendahkan. dengan tatapan judgmental. dengan tatapan seakan gue hina. gue makhluk aneh, makhluk gak ada harga. (YES, TATAPAN DIA BISA SEBEGITU INTIMIDATIFNYA. gue saranin lo jangan jadi Account Strategies, deh, Mel, jadi apa kek, debt collector, kek, jadi polwan yang nginterogasi penjahat, kek. jauh lebih guna nantinya hidup lo.)

apakah dengan begitu, gue akan serta merta diam saja? oh, tentu saja tidak, Saudara. gue langsung nunjuk seketika ke arah muka dia,

“lo nggak boleh bilang gue aneh, setiap orang punya speciality-nya sendiri. lo gak ada hak bilang aneh gitu ke gue.”

muka gue udah nggak lagi bercanda, karena gue tau dia nggak bercanda. nggak pernah ada kamus bercanda buat dia kalau udah ngatain dan judgemental begitu ke orang. gimana caranya gue tau? keliatan. orang bercanda nggak akan seintimidatif dan segitu gak sensitifnya sama orang yang tersinggung sama bercandaannya.

gue merasa marah, gue merasa harus cerita, gue merasa harus meluapkan, gue merasa ini penting buat gue karena dia udah segitu membuat gue emosi. gue telepon Aba Fajar. tadinya niat cuma mau cerita aja, sekadar pingin didenger, sekadar ingin meluapkan.

tapi di saat gue merasa dan memikirkan, entah karena emosi gue udah sangat membuncah digituin sama orang macem dia DOANG, gue marah dan gue nangis sejadi-jadinya, sampe kayak orang sedih banget, segitu marahnya gue sampe gak bisa marah… tapi cuma bisa nangis sambil cerita di telepon.

gue bener-bener nggak nyangka aja. ada orang lain, entah dia itu siapa, kenal aja juga baru, nggak bener-bener ngobrol secara dekat, dengan segala keangkuhan dan gayanya yang sinis, bisa dengan entengnya bilang gue aneh.

seriously, like… really? (ala anak-anak Jaksel)

gue jadi meragukan pendidikan dia di luar negeri, apa iya dia beneran terdidik atau nggak. sepengetahuan gue, meskipun gue orang Bekasi yang gak pernah tinggal di luar negeri, kayaknya sangat gak etis dan gak ada kepentingan juga lo komentarin hidup orang dan langsung judge kayak gitu. kayak, ya masa iya sih, sampe segitu pentingnya lo ngurusin dan komentarin hidup orang.

terus gue inget dan menyadari… alah, dia cuma manusia kota yang kesepian, pathetic, nggak punya temen, cari perhatian, mikirin reputasi, dan segala hal lainnya yang punya stigma negatif.

dah ya, Mel, selamat, lu udah dapet perhatian gue. perhatian semua orang.

lo nggak pernah akan bisa, sampai kapan pun, gak pernah boleh, gak akan ada waktunya, lo bisa jatuhin orang dengan omongan judgemental dan tatapan sinis sampah lo itu. nggak akan. ke siapa pun.

gue maafin lo, meskipun lo nggak minta maaf. kalo kata The Corrs, you’re forgiven, but not forgotten.

mungkin reaksi gue menurut beberapa orang akan dicap berlebihan dan nggak seharusnya sewajarnya dan semestinya kayak gitu, apalagi gue lagi mengandung. kayak kurang dewasa aja nanggepin hal itu. balik lagi ke pribadi orangnya sih ya, kalau gue, ini udah titik tersabar gue menghadapi teman-teman yang membuat gue… ah. gue merasa udah menahan, udah merasa ini biasa aja, udah merasa nggak perlu dibesar-besarin, tapi kalau kayak gitu terus, itu orang bakalan terus-terusan bersikap kayak gitu. ke semua orang, yang dia anggap bisa dia gituin.

nggak bisa. gue harus lawan. gue gak bisa bikin dia merasa, “oh yaudah, gak ada yang berani sama gue. gak akan ada yang lawan gue. semua orang takut sama gue.”

lo dan gue. masih manusia. masih sederajat. masih sama. masih sejenis.

mungkin di lain post, gue akan sangat bergairah nulis segala tetek bengek ini. cuma karena gue udah nggak mood nulis tentang ini, mohon maaf ya, sampai di sini aja cerita keselnya.

oh iya, satu lagi, gak ada orang yang suka dengan perlakuan lo yang kayak gitu. nggak ada.


 

dear abang yang ada di dalam perut,

belajarlah menjadi manusia. nanti Ubu temani bersama, ya.

 

7 September 2018, pojokan tempat duduk bumil di kantor Playpark 99, 15.21 WIB.

another level of life: istri dan ibu

well rasanya udah lama banget nggak kicau alay di sini. sekangen itu, se-random itu, padahal bisa aja nih blog gue ganti ke domain .com dan gue jadiin konten harian biar kayak mak-mak blogger (ceritanya itu dulu salah satu hobi deya yang mau dijadiiin kerjaan = nulis doang tapi dapet uang). dan rasanya emang beneran bakalan gue jadiin serius deh. mungkin beberapa konten yang mayan berbobot di blog super alay ini bisa gue jadiin awalan dulu di sana, buat sekadar ngisi aja gitu, ehehehehe

anyway, alhamdulillah ya, ternyata gue sudah mengalami banyak dinamika dalam hidup selama kurang lebih 24 tahun (yey, bentar lagi you 25 de!) ini. seperempat abad hidup, dengan menjadi seorang perempuan, istri, dan (calon) ibu.

ya. akhirnya, dea akan menjadi seorang ibu!

whoops, sebelum masa-masa itu datang, ada niatan dari dalam diri buat sekadar memulai lagi nulis, karena in syaa Allah sepertinya tulisan akan lebih abadi daripada hanya jasad dan jiwa saya ini.

jadi, gue sudah menikah tahun ini gaes, nah ini bakalan ada postingannya tersendiri ya, biar traffic blog gue naik. hahaha padahal mah siapa juga yang mau baca sih elah.

lalu setelah menikah, alhamdulillah juga, Allah langsung kasih “titipan” tiada bernilai, seorang janin yang kini masih berusia 22 minggu. yang ini juga nantinya bakalan ada kontennya tersendiri ya.

intinya gaes, dearisa sepertinya sudah menemukan “dia” yang sempat gue tuliskan dahulu, rasa-rasanya waktu jadi sangat begitu cepat ya, padahal pas ketemu “dia” ini mayan ngaduk-ngaduk perasaan.

gue tau, gak akan ada yang bener-bener baca ini tulisan, seenggaknya gue bisa berbagi cerita dengan siapa pun yang tetiba ingin kepo tentang gue suatu hari nanti.

gue nulis ini di tengah-tengah kerja sih, jadi…

 

… sampai ketemu di tulisan panjang selanjutnya.

FD. Flash Drive.

 

Belum punya “puisi” buat dia.

Aku cuma tahu satu hal, sekarang ini–dan aku tak tahu sampai kapan–dia hanya akan selalu menjadi dia-nya Dearisa. Dia yang pernah kutuliskan pada postingan sebelumnya, jauh sebelum aku mengenalnya. Dia-nya Dearisa Muhlisiani Putri ini bernama…. Nikmatul Fajar. Ajak. Jajak. Atul. Fajar.

:))

Happy twenty! Happy growing old with me!

Pesan Tulus Untuk Bipolar Disorder

welcome, Dearisa. welcome to The Bottom of Everything life.

Flying so light to the sky

Tak disangka, saya (kembali) menulis mengenai bipolar disorder. Dan latar belakang penulisannya masih sama, atas dasar rasa yang tulus untuk seseorang.

Setiap kita pasti pernah merasa depresi atau euphoria dalam lingkaran hidup yang dijalani. Tapi tak semua orang memiliki kemampuan untuk menghadapi dua rasa yang jamak itu.

Trauma masa lalu, kemampuan memecahkan masalah, dan mekanisme kimiawi tubuh adalah unsur yang membantu kita berhasil melalui dua rasa itu atau justru sebaliknya. Dan bagi pengidap bipolar disorder, dua rasa itu adalah ‘beban’ yang harus mereka pikul seumur hidup.

Sebelum cerita banyak soal Bipolar Disorder, ada baiknya liat thriller film At the Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya). Ini film karya Paul Agusta, salah satu sutradara film indie yang berbakat.

Apa kesan yang timbul saat menonton film itu? Mendapat sedikit gambaran soal Bipolar Disorder atau justru memancing seribu pertanyaan tentang mahluk apakah Bipolar Disorder? Sebelum (berusaha) menjawab, saya ingin kasih gambaran bahwa film…

Lihat pos aslinya 2.005 kata lagi

Akhirnya Nulis Lagi.

Akhirnya nulis lagi. Belum deh, belum bisa cerita semua-semuanya lagi kayak dulu. Belum bisa update kehidupan lagi kayak dulu.

Ada, sih, target mau tiap minggu nge-update blog ini, tapi kayaknya pun baru hanya akan jadi wacana aja, nih.

Ada sesuatu yang mendesak gue menuliskannya di blog ini. Ya, akhirnya gue “nyastra” lagi, setelah sekian lama bergulat dengan ragam komersialisasi dan materialisasi. Akhirnya gue balik lagi jadi manusia normal, bukan hewan berotak yang bentar lagi bertransformasi jadi zombi distrik Bekasi di Commuter Line itu. Ya, akhirnya gue nulis lagi.

Akhirnya gue nulis lagi, nulisin ini semua. Ya.

30 November 2015 lalu gue nulisin sesuatu buat pacar gue, Nikmatul Fajar, di media chatting WhatsApp. Sesuatu ini, gue nggak tau disebutnya apa, masuk ke puisi narasi, nggak juga. Puisi esai, juga nggak. Curahan biasa, tapi terlalu puitis. Ya, anggaplah apa pun itu yang bisa bikin gue jadi nulis lagi kayak dulu ini secuil perasaan gue, yang gue rasain dengan bersama Keenan-nya gue. Iya, akhirnya Kugi-nya bisa nulis lagi. Akhirnya.

————————————————————-

Cuma Kamu, Yang Lain Palsu

Jika ada sebongkah bebatuan dan kekayuan di tengah jalan; mereka berlari, menginjak, menghindari, namun kadang tak menyingkiri. Cuma kamu yang berani menyapu segala pelu sesakitan akibat batu dan kayu di tengah jalan itu. Asli, hanya kamu yang berani. Cuma kamu, yang lain palsu

Jika Matahari dan Bulan bergantian peran berteman dengan awan dan bintang gemerlapan di malam-malam terang dan berbinar, terkadang hujan menyapa dengan bijak, tak jarang pelak galak; semuanya masih milik Bumi yang meledak-ledak bergantian bersolek penampilan dan jelma rupa. Cuma kamu yang tahu Bumi bersahabat dekat dengan pijakan sinar Matahari yang lembut kadang menyengat, berirama dengan pantulan dari Bulan di malam rupawan, mimikri dengan sikap dan tingkah manusia-manusia yang tinggal dengan silap tetap tamak. Asli, hanya kamu yang tahu. Cuma kamu, yang lain palsu

Jika ada dua, tiga, empat, bauran gelap remang membayang di antara wanitanya lagi gulana nan bimbang; terserbu jutaan, milyar, triliun kenangan tak biasa terucap dengan kebohongan matang. Cuma kamu yang paham betapa diri wanitanya lemah bertabur gundah dengan susah payah menjauhi segala susah. Asli, hanya kamu yang paham. CUma kau, yang lain palsu

Jika pada akhirnya kau dihadapkan pada pilihan murni dari cinta sejati yang menitahkanmu pergi, dengan berbagai koleksi kilah diri bahwa wanitanya masih sanggup lagi sendiri menggenggam sedih terperi. Cuma kamu yang mau ambil risiko jiwa sendiri, mengancam luka batin tanpa henti yang datang dari mana saja yang bisa menghampiri, mencoba tanah dan kuat menghadapi. Asli, hanya kamu yang mau. Cuma kamu, yang lain palsu

Dearisa Muhlisiani Putri

————————————————————-

Ya, akhirnya gue nulis (sampah) lagi. Sampai jumpa di postingan blog (sampah) selanjutnya! :))